Friday, July 26, 2013

Syair Al-Imâm Asy-Syâfi’i Rahimahullâh tentang Hikmah


دَعِ الأَيَّامَ تَفْعَل مَا تَشَاءُ ** وَطِبْ نَفْساً إذَا حَكَمَ الْقَضَاءُ

“Biarkanlah hari demi hari berbuat sesukanya ** Tegarkan dan lapangkan jiwa tatkala takdir menjatuhkan ketentuan (setelah diawali dengan tekad dan usaha).”

وَلا تَجْزَعْ لِنَازِلَةِ اللَّيَالِـي **  فَمَا لِـحَوَادِثِ الدُّنْيَا بَقَاءُ

“Janganlah engkau terhenyak dengan musibah malam yang terjadi ** Karena musibah di dunia ini tak satu pun yang bertahan abadi (musibah tersebut pasti akan berakhir).”

وكُنْ رَجُلاً عَلَى الْأَهْوَالِ جَلْدًا ** وَشِيْمَتُكَ السَّمَاحَةُ وَالْوَفَاءُ

“(Maka) jadilah engkau lelaki sejati tatkala ketakutan menimpa ** Dengan akhlakmu; kelapangan dada, kesetiaan dan integritas.”

وإنْ كَثُرَتْ عُيُوْبُكَ فِيْ الْبَرَايَا ** وسَرّكَ أَنْ يَكُونَ لَها غِطَاءُ

“Betapapun aibmu bertebaran di mata makhluk ** Dan engkau ingin ada tirai yang menutupinya.”

تَسَتَّرْ بِالسَّخَاء فَكُلُّ عَيْبٍ ** يُغَطِّيْهِ كَمَا قِيْلَ السَّخَاءُ

“Maka tutupilah dengan tirai kedermawanan, karena segenap aib ** Akan tertutupi dengan apa yang disebut orang sebagai kedermawanan.”

وَلَا تُرِ لِلْأَعَادِيْ قَطُّ ذُلًّا ** فَإِنَّ شَمَاتَةَ الْأَعْدَا بَلَاءُ

“Jangan sedikitpun memperlihatkan kehinaan di hadapan musuh (orang-orang kafir) ** Itu akan menjadikan mereka merasa di atas kebenaran disebabkan berjayanya mereka, sungguh itulah malapetaka yang sebenarnya.”

وَلَا تَرْجُ السَّمَاحَةَ مِنْ بَخِيْلٍ ** فَما فِي النَّارِ لِلظْمآنِ مَاءُ

“Jangan pernah kau berharap pemberian dari Si Bakhil ** Karena pada api (Si Bakhil), tidak ada air bagi mereka yang haus.”

وَرِزْقُكَ لَيْسَ يُنْقِصُهُ التَأَنِّي ** وليسَ يزيدُ في الرزقِ العناءُ

“Rizkimu (telah terjamin dalam ketentuan Allâh), tidak akan berkurang hanya karena sifat tenang dan tidak tergesa-gesa (dalam mencarinya) ** Tidak pula rizkimu itu bertambah dengan ambisi dan keletihan dalam bekerja.”

وَلاَ حُزْنٌ يَدُومُ وَلاَ سُرورٌ ** ولاَ بؤسٌ عَلَيْكَ وَلاَ رَخَاءُ

“Tak ada kesedihan yang kekal, tak ada kebahagiaan yang abadi ** Tak ada kesengsaraan yang bertahan selamanya, pun demikian halnya dengan kemakmuran. (Beginilah keadaan hari demi hari, yang seharusnya mampu senantiasa memberikan kita harapan demi harapan dalam kehidupan)”

إذَا مَا كُنْتَ ذَا قَلْبٍ قَنُوْعٍ ** فَأَنْتَ وَمَالِكُ الدُّنْيَا سَوَاءُ

“Manakala sifat Qanâ’ah senantiasa ada pada dirimu ** Maka antara engkau dan raja dunia, sama saja (artinya: orang yang qanâ’ah, senantiasa merasa cukup dengan apa yang diberikan Allâh untuknya, maka sejatinya dia seperti raja bahkan lebih merdeka dari seorang raja)

وَمَنْ نَزَلَتْ بِسَاحَتِهِ الْمَنَايَا ** فلا أرضٌ تقيهِ ولا سماءُ

“Siapapun yang dihampiri oleh janji kematian ** Maka tak ada bumi dan tak ada langit yang bisa melindunginya.”

وَأَرْضُ اللهِ وَاسِعَةً وَلَكِنْ ** إذَا نَزَلَ الْقَضَا ضَاقَ الْفَضَاءُ

“Bumi Allâh itu teramat luas, namun ** Tatakala takdir (kematian) turun (menjemput), maka tempat manapun niscaya kan terasa sempit.”

دَعِ الأَيَّامَ تَغْدرُ كُلَّ حِينٍ ** فَمَا يُغْنِيْ عَنِ الْمَوْتِ الدَّوَاءُ

“Biarkanlah hari demi hari melakukan pengkhianatan setiap saat (artinya: jangan kuatir dengan kezaliman yang menimpamu) ** Toh, (pada akhirnya jika kezaliman tersebut sampai merenggut nyawa, maka ketahuilah bahwa) tak satu pun obat yang bisa menangkal kematian (artinya: mati di atas singgasana sebagai dan mati di atas tanah sebagai orang yang terzalimi, sama-sama tidak ada obat penangkalnya).”
***
Dari kitab Dîwân al-Imâm asy-Syâfi’i hal. 10, Ta’lîq: Muhammad Ibrâhîm Salîm
Diterjemahkan oleh:
Jo Saputra “Abu Ziyan” Halim


Sunday, July 14, 2013

Kelemahan


Aku mula mempelajari Bahasa Arab sejak usiaku 5 tahun. Sekarang, usiaku hampir mencecah 24 tahun, memang dah masuk 24 tahun pun. Cuba kira, berapa lama masa yang telah ku ambil untuk belajar Bahasa Arab?...
Sudah hampir 19 tahun aku belajar Bahasa Arab.....tapi kenapa aku masih lagi tak dapat menguasainya dengan baik? 
Kenapa Bahasa Arabku tak fluent?
Kenapa aku masih lagi bergantung pada kamus untuk menterjemah sesuatu perkataan yang tak difahami?
Imam Abu Hanifah mengambil masa selama 18 tahun mempelajari Fiqh, setelah itu beliau menjadi arif dalam permasalahan Fiqh..
Kenapa aku tak begitu?

Setiap kita ada kelemahan-kelemahan yang kita ratapi. Tetapi kelemahan itu bukan untuk ratapan, sebaliknya ia adalah untuk sebuah pengharapan yang menuntut kepada perubahan kebaikkan.

Sabar

Kejayaan, kefahaman, kemahiran hatta kelebihan atas sesuatu itu berhajatkan kepada kesabaran. Kenapa?
Sebab hanya orang sabar tahu menilai. Dan Allah suka orang yang sabar.

Kejayaan adalah sesuatu perkara yang subjektif, manusia masyarakat awam khususnya, melihat kejayaan itu terletak kepada penguasaan terhadap sesuatu. Orang yang sabar, yang tahu menilai, akan berpendapat setiap detik adalah kejayaan. Berjayanya dia, kerana dia bersabar dan Allah bersama orang yang sabar. " Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar."

Sabar menjinakkan keinginan, dan menguatkan keyakinan, keimanan dan daya kawalan. Maka bersabarlah kamu dalam berusaha, bersabarlah dalam melaksanakan ketaatan dan bersabarlah dalam membentuk taqwa.

Syukur

Jarang untuk kita mensyukuri kelemahan, tapi tidakkah engkau tahu, kelemahan mendekatkan engkau dengan Tuhanmu. Ia membesarkan raja' ( pengharapan) mu, menjadikan kau hamba yang mengadu, dan seringkali memohon agar diberi mampu.


Bersyukurlah engkau dengan kelemahan, kerana kelemahan itu membesarkan harapanmu terhadap Rabb Yang Maha Memberi kemampuan.


" لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ.."

Malu

Malu adalah sebahagian dari iman. Kerana malu menjadi indikator kepada sebuah perubahan.


Malu menjadi manusia kotor, kita berubah menjadi manusia yang bersih. Malu menjadi orang yang jahil, kita berusaha menjadi orang yang berpengetahuan. Banyak bangsa manusia yang hari ini menjadi hebat lantaran rasa malu kalau tak jadi hebat. Hamba yang malu akan dosa, akan bergerak menjauhi dosa seraya memohon keampunan dan perlindungan dari Tuhan.

Malulah dengan kelemahan diri, kerana ianya menjadikan kita rendah hati, bergeraklah memperbaiki keadaan diri, kerana ia adalah 'amal yang Allah nilai di akhirat nanti.